Menguasai Emosi Ketika Berbicara

Betapa banyak momentum yang menguap begitu saja karena ketika seseorang berbicara dengan orang lain tanpa disadari telah melukai hati, mengabaikan bahkan menghina orang yang kita ajak bicara. Padahal maksud awal adalah untuk menjalin relasi dan mendapat kepercayaan. Karena tidak melibatkan nuansa emosi sebagai tools maka bisa jadi  bicara dilakukan dengan membabi buta tanpa struktur dan arah yang jelas dan akhirnya outputnya pun tidak seperti yang diharapkan.

Padahal kita tidak bisa untuk selalu tidak berkomunikasi. Selalu berbicara, selalu mendengar dan selalu terterpa pesan baik sengaja ataupun tidak disengaja. Bila diteliti, betapa banyak kita berbicara tanpa motivasi komunikasi yang terarah dengan baik. Syukurlah masih ada waktu jeda untuk meminimalisasi semua akibat negatif dari sebuah komunikasi yang buruk.

Jeda satu menit untuk mengatur nafas ketika berbicara sangat efektif untuk membuat daya pesan lebih kuat sesuai tujuannya. Alih-alih bicara dengan tersengal sengal dan dalam keadaan terburu buru.

Bahkan dalam rapat yang sangat seru ketika mepresentasikan sebuah gagasan dan ingin semua orang terpengaruh makan metoda, jeda sesaat ini harus diperhitungkan baik-baik. Biasakanlah mengambil jeda ini sebagai karakter anda dan yakinlah akan menuai hasil pembicaraan yang lebih berkualitas.

Melihat Suasana

Melihat semua orang atau audience, merupakan kemampuan komunikasi yang harus ditingkatkan setiap saat. Jangan ragu untuk melihat nuansa dan suasana semua yang ada didepan anda. Jeda waktu ini digunakan untuk melihat menggunakan potensi penglihatan anda. Ada warna apa yang dominan, ada berapa orang dan siapa orang yang akan mendengarkan anda perlu didalami dan digali, sehingga tidak salah dalam penyajian dan bahkan bisa menjadi bahan tambahan menunjang topik pidato anda. Lihat siapa yang anda ajak bicara, semakin banyak kesamaan maka anda akan bergaya komunikasi yang lebih dimudahkan. Bila terlihat gabnya terlalu lebar atau banyak maka seyogyanya anda cermat menyesuaikan diri untuk mencari titik kesamaannya terlebih dahulu.

Mendengar situasi

Diam dulu sejenak untuk mendengarkan, ini membuat langkah pidato / pembicaraan lebih baik berkali  lipat dibandingkan berbicara tanpa mendengarkan suara lain sebelumnya. Ibarat anda memasak makanan maka nyala api harus pas dan sesuai tidak besar kecilnya api tersebut. Mendengarkan terlebih dahulu sebelum bicara membuat kita mampu membuat suasana yang pas untuk mengolah suatu pembicaraan yang efektif. Tidak beku dan terasa kaku namun juga tidak terlalu panas menggebu-gebu dan terburu-buru.

Jeda satu menit dapat digunakan untuk melihat keadaan  dan mendengar situasi sebelum mulai mengirim pesan. Jeda itu bisa jadi sebuah doa agar semua orang yang terpapar pembicaraan kita benar benar dapat menangkap secara utuh tidak terpotong potong dan positip semua pesan yang disampaikan.

Manfaatkanlah momentum jeda satu menit ini kapan saja anda merasa membutuhkan. Itu tidak merugikan sama sekali bahkan sangat menguntungkan motif komunikasi anda. Pertimbangkan sebaik mungkin motif anda ketika berbicara. Motif komunikasi efektif dengan demikian bisa sangat membantu anda mencapai target pekerjaan ataupun target relasi lainnya.

Selamat berinteraksi dan berkomunikasi .

Salam ArdhanA