Jalan Perumnas No.7 Condongcatur Depok, Sleman, Yogyakarta

081 226 888 844

# KOMUNIKASI ITU UNDERRATED ### Kita Tidak Harus Satu Frekuensi untuk Bisa Saling Memahami


# KOMUNIKASI ITU UNDERRATED 

### Kita Tidak Harus Satu Frekuensi untuk Bisa Saling Memahami

 

Ada satu hal yang sering kita anggap sederhana di tempat kerja: *komunikasi.*

 

Kita bicara. Orang lain mendengar. Pesan disampaikan. Selesai.

 

Nyatanya, komunikasi bisa menjadi salah satu aktivitas yang paling melelahkan. Bukan karena kita tidak tahu cara berbicara, tetapi karena kita sedang berhadapan dengan manusia yang memiliki *kapasitas intelektual dan emosional yang berbeda-beda.*

 

Hampir tidak pernah dua orang memiliki kapasitas yang persis sama.

 

Ada yang cepat menangkap maksud pembicaraan. Ada yang membutuhkan waktu. Ada yang berpikir sangat logis. Ada yang lebih dulu merasakan sebelum memahami. Ada yang mampu tetap tenang ketika ditekan, sementara yang lain membutuhkan jeda untuk mengelola emosinya.

 

Dan semuanya manusiawi.

 

Persoalannya muncul ketika kita *kemrungsung ingin diterima.*

 

Kita bukan hanya ingin menyampaikan pesan. Kita ingin segera dipahami. Ingin segera dimengerti. Bahkan kadang ingin orang lain memahami kita persis seperti kita memahami diri sendiri.

 

Ketika itu tidak terjadi, komunikasi mulai menguras energi.

 

Padahal mungkin persoalannya sederhana: *kapasitas kita berbeda.*

 

Di sinilah komunikasi membutuhkan sesuatu yang lebih tinggi daripada sekadar kecakapan berbicara: *kebijaksanaan.*

 

Kebijaksanaan membuat kita bertanya:

 

Apakah sekarang waktu yang tepat untuk menjelaskan? 

Apakah orang ini sedang siap menerima? 

Apakah cara bicara saya membantu atau justru membuatnya bertahan? 

Apakah saya perlu menjelaskan lagi, atau justru memberi waktu?

 

Komunikasi yang bijaksana tidak menuntut semua orang berada pada frekuensi yang sama.

 

Lucunya, kita sering menemukan “satu frekuensi” justru ketika sedang outing. Makan bersama, bermain, tertawa—tiba-tiba semua kompak. Tidak terlalu memikirkan jabatan, target, SOP, atau siapa yang paling benar.

 

Begitu kembali ke tempat kerja?

 

Frekuensinya mulai mencari sinyal lagi. Hehehe.

 

Mungkin karena dalam suasana kerja, kita membawa *peran, target, tekanan, ego, tanggung jawab, dan ekspektasi* masing-masing.

 

Maka komunikasi efektif sesungguhnya membutuhkan tiga hal.

 

*Pertama, KOMITMEN.* 

Kemauan untuk ikut memastikan komunikasi berhasil. Bukan sekadar berkata, “Saya sudah menyampaikan.” Tetapi juga bertanya, “Apakah pesan ini sudah dipahami?”

 

*Kedua, KESADARAN.* 

Kesadaran bahwa kata-kata, nada suara, ekspresi dan bahasa tubuh kita memiliki dampak. Apa yang menurut kita biasa saja, bisa terasa berbeda bagi orang lain.

 

*Ketiga, TANTANGAN.* 

Kemampuan menjaga kualitas komunikasi ketika situasinya tidak ideal: sedang sibuk, lelah, ramai, menghadapi komplain, atau berhadapan dengan orang yang cara berpikirnya berbeda.

 

Maka mungkin komunikasi bukan tentang bagaimana membuat semua orang *satu frekuensi*.

 

Komunikasi adalah kemampuan untuk tetap terhubung meskipun frekuensi kita berbeda.

 

Kita boleh berbeda kapasitas intelektual. Berbeda kapasitas emosional. Berbeda pengalaman. Berbeda cara memahami sesuatu.

 

Yang penting, kita tidak terburu-buru memaksa orang lain menjadi seperti kita.

 

Karena tidak semua pesan harus langsung dipahami.

 

Tidak semua perbedaan harus segera diselesaikan.

 

Tidak semua respons harus kita kendalikan.

 

Kadang tugas kita cukup sederhana: *menyampaikan dengan jernih, menjaga cara, kemudian memberi waktu.*

 

Selebihnya, biarkan setiap orang bertumbuh dengan kapasitasnya masing-masing.

 

Mungkin itulah bentuk komunikasi yang paling dewasa.

 

Bukan ketika kita berhasil membuat orang lain berpikir seperti kita.

 

Tetapi ketika kita mampu tetap menghargai manusia yang *belum mampu melihat sesuatu dengan cara yang sama.*

 

Dan pada akhirnya, komunikasi efektif bukan tentang memenangkan percakapan.

 

*Ia tentang menjaga hubungan, menyelesaikan persoalan, dan tetap memberi ruang bagi manusia untuk menjadi manusia.*

 

#isnurin bonowiyati

#Komunikasi Efektif di tempat kerja

#Next training bulan Oktober 2026


Bagikan postingan ini
Hubungi Kami Via Whatsapp