Jalan Perumnas No.7 Condongcatur Depok, Sleman, Yogyakarta

081 226 888 844

CUKUP MENUNAIKAN HARI INI


CUKUP MENUNAIKAN HARI INI

 

Mungkin salah satu sumber kebingungan manusia dalam menjalani hidup adalah karena kita ingin menuntaskan semuanya sekaligus.

Ingin pikiran selalu tenang.

Emosi selalu baik.

Tubuh selalu sehat.

Iman selalu kuat.

Pekerjaan selesai.

Hubungan baik.

Rezeki cukup.

Masa depan aman.

Padahal mungkin Allah tidak meminta manusia menyelesaikan seluruh hidupnya hari ini.

Cukup menunaikan hari ini.

Ada empat ruang dalam diri yang perlu diperhatikan: spiritual, pikiran, emosi, dan fisik.

Spirit bertanya, “Hari ini aku membutuhkan apa agar tetap dekat dengan Allah?”

Tunaikan.

Tubuh bertanya, “Hari ini aku membutuhkan apa agar bisa menjalankan amanah?”

Tunaikan.

Emosi berkata, “Hari ini aku perlu apa agar tidak terus membawa beban yang bukan bagianku?”

Tunaikan.

Pikiran bertanya, “Hari ini apa yang perlu kupahami, kuselesaikan, atau kulepaskan?”

Tunaikan.

Tidak perlu berlebihan.

Tidak perlu kurang.

Sewajarnya.

Mungkin di situlah tuma'ninah mulai tumbuh. Bukan karena semua keadaan menjadi sempurna, tetapi karena kita berhenti memaksa diri menyelesaikan sesuatu yang memang belum waktunya diselesaikan.

Manusia juga tidak mungkin merasa dirinya terbaik dalam keempat dimensi itu setiap hari.

Hari ini mungkin spirit kuat, tetapi fisik lelah.

Besok pikiran jernih, tetapi emosi sedang tidak stabil.

Di hari lain tubuh sehat, tetapi hati membutuhkan lebih banyak dzikir dan doa.

Tidak apa-apa.

Begitu pula melihat orang lain.

Kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana keadaan spiritual, pikiran, emosi, dan fisik seseorang. Maka mungkin tidak perlu terlalu sibuk mengukur orang lain.

Tunaikan dulu empat ruang itu di dalam diri sendiri.

Karena pengalaman hidup yang diberikan Allah melalui keempat ruang itulah sebenarnya bagian dari rezeki.

Takut dan berani.

Sakit dan sembuh.

Nyenyak dan gelisah.

Kurang dan cukup.

Sedih dan bahagia.

Berhasil dan gagal.

Semuanya pengalaman.

Semuanya pembelajaran.

Semuanya berada dalam pengetahuan Allah.

Maka hidup bukan terutama tentang menjadi manusia yang paling hebat.

Hidup adalah tentang menunaikan amanah yang hadir hari ini.

Allah sudah memberikan ukuran masing-masing.

Kapasitas masing-masing.

Warna masing-masing.

Jalan masing-masing.

Dan manusia tidak perlu mengambil ukuran milik orang lain untuk menilai apakah hidupnya sudah cukup.

Apalagi merasa harus menjadi “yang terbaik” dalam segala hal.

Ada Al-Qur'an sebagai petunjuk arah.

Maka tugas manusia mungkin jauh lebih sederhana daripada yang selama ini dibayangkan:

dekat kepada Allah, mengenali kebutuhan diri, menunaikannya dengan wajar, lalu mengalirkan rezeki yang diterimanya kepada dunia.

Apa yang kita punya bukan benar-benar milik kita.

Kita hanya dipilih untuk memegangnya sementara.

Dipilih untuk menggunakannya.

Dipilih untuk mengalirkannya.

Dipilih untuk menjaganya.

Termasuk kemampuan berpikir.

Kemampuan merasa.

Kesehatan tubuh.

Pengalaman.

Ilmu.

Rezeki.

Waktu.

Semuanya amanah.

Dan mungkin hidup menjadi lebih ringan ketika tidak lagi bertanya,

“Apakah aku sudah menjadi manusia terbaik?”

Tetapi bertanya,

“Hari ini, apa yang menjadi kebutuhanku dan amanahku? Sudahkah kutunaikan dengan baik?”

Dari subuh sampai petang.

Satu hari.

Satu demi satu.

Tidak lebih.

Tidak kurang.

Besok adalah urusan Allah.

Hari ini adalah kesempatan untuk menunaikan.

Bismillah.

Semoga spiritual kita mendapatkan haknya.

Pikiran mendapatkan haknya.

Emosi mendapatkan haknya.

Fisik mendapatkan haknya.

Dan setelah itu, apa pun yang Allah berikan—senang atau susah, lapang atau sempit, takut atau berani, sakit atau sehat—diterima sebagai bagian dari perjalanan seorang insan yang terus belajar.

Bukan untuk menjadi sempurna.

Tetapi untuk menjadi hamba yang menunaikan amanahnya.

Hari demi hari.

Sampai waktunya pulang.

 

 

Isnurin Bonowiyati

Nasehat Diri

Productifity Specialist


Bagikan postingan ini
Hubungi Kami Via Whatsapp