# STRESS di Kantor
## Bukan Karena Tekanan Kerja. Tetapi Karena Buruknya Kualitas Interaksi.
Malam itu, Andi sudah mematikan lampu kamar.
Besok jadwalnya padat. Pukul delapan ada presentasi, siang harus mendampingi tamu, sore masih ada laporan yang harus dikirim.
Sebelum benar-benar tidur, ia mengambil ponselnya.
"Kebiasaan," pikirnya. Hanya ingin memastikan tidak ada pesan penting dari kantor.
Di grup WhatsApp kantor ternyata ada belasan chat baru.
Ia membaca perlahan.
"Kalau dari awal ada yang lebih teliti, kita tidak perlu mengulang pekerjaan seperti ini."
Lalu muncul balasan lain.
"Ya... memang ada yang masih harus banyak belajar."
Tidak ada nama.
Tidak ada yang secara langsung menunjuk dirinya.
Tetapi entah mengapa, dadanya langsung terasa sesak.
Andi menaruh ponsel di samping bantal.
Mencoba memejamkan mata.
Lima menit berlalu.
Sepuluh menit.
Pikirannya justru semakin ramai.
"Maksudnya aku, ya?"
"Apa teman-teman yang lain juga berpikir begitu?"
"Haruskah besok aku menjelaskan?"
Ia mengambil ponsel lagi.
Membaca ulang chat yang sama.
Berharap kali ini maknanya berubah.
Ternyata tetap sama.
Malam itu tidak ada pekerjaan yang dikerjakan.
Namun pikirannya lembur sampai dini hari.
---
Pernah mengalami hal seperti itu?
Tubuh sudah berada di rumah.
Tetapi hati masih tertinggal di kantor.
Yang dibawa pulang bukan setumpuk berkas.
Melainkan satu percakapan.
Satu komentar.
Satu nada bicara.
Satu pesan WhatsApp.
Satu tatapan yang terus teringat.
Sering kali kita menyebutnya, "Lagi stres kerja."
Padahal, kalau dipikir-pikir, yang membuat kita sulit tidur bukanlah pekerjaannya.
Laporannya tetap sama.
Rapatnya juga sama.
Targetnya pun tidak berubah.
Yang berubah adalah kualitas interaksi di dalamnya.
Ada kalimat yang terasa menyudutkan.
Ada candaan yang diam-diam merendahkan.
Ada informasi yang sengaja tidak dibagikan.
Ada orang yang lebih sibuk mencari perhatian daripada mencari solusi.
Sedikit demi sedikit, energi kita habis.
Bukan karena pekerjaan terlalu berat.
Tetapi karena setiap hari kita harus menebak-nebak maksud orang lain.
Harus berhati-hati berbicara.
Harus menjaga diri agar tidak menjadi bahan pembicaraan berikutnya.
Di titik inilah kantor berubah.
Bukan lagi tempat orang berkarya.
Melainkan tempat orang bertahan.
Padahal pekerjaan sudah cukup menantang.
Mengapa kita masih menambah beban dengan saling melukai?
Organisasi yang sehat bukanlah organisasi yang tidak pernah berbeda pendapat.
Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu menjaga cara berinteraksi ketika sedang berbeda pendapat.
Karena komunikasi yang efektif bukan hanya soal memilih kata yang benar.
Tetapi juga menjaga hati agar tujuan bersama tetap lebih besar daripada kepentingan pribadi.
Mungkin kita tidak bisa mengurangi semua tekanan pekerjaan.
Namun kita selalu bisa mengurangi tekanan yang kita ciptakan melalui cara kita berbicara.
Sebelum menekan tombol *Kirim*, mungkin ada satu pertanyaan sederhana yang layak kita tanyakan kepada diri sendiri.
"Apakah kalimat ini akan membuat pekerjaan menjadi lebih baik... atau hanya membuat seseorang sulit tidur malam ini?"
Sebab di tengah tekanan kerja, sering kali yang paling dibutuhkan bukanlah kalimat yang paling pintar.
Melainkan kalimat yang paling menenangkan.
*"Mari kita cari jalan keluarnya bersama."*
#Isnurin Bonowiyati
#Productivity Specialist
#Manajemen Stress di kantor
#Ardhana EO Training dan Outing