Jalan Perumnas No.7 Condongcatur Depok, Sleman, Yogyakarta

081 226 888 844

# Zona Bahaya Integritas Dimulai dari Retakan Kecil


# Zona Bahaya Integritas Dimulai dari Retakan Kecil

 

Beberapa waktu terakhir, media massa kembali dipenuhi berita tentang praktik korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan berbagai pelanggaran yang membuat masyarakat menggelengkan kepala. Setiap kali berita itu muncul, pertanyaan yang sering terdengar adalah, "Kok bisa ya?" Seolah-olah semua itu terjadi begitu saja.

 

Padahal, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah *"Mengapa bisa terjadi?", tetapi *"Sejak kapan kita mulai menganggap retakan kecil sebagai sesuatu yang biasa?"**

 

Tidak ada bangunan yang runtuh dalam semalam. Selalu ada retakan kecil yang dibiarkan.

 

Begitu pula dengan integritas.

 

Integritas jarang runtuh karena satu keputusan besar. Ia melemah sedikit demi sedikit, melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dianggap sepele.

 

Rapat dimulai tiga puluh menit lebih lambat karena semua merasa masih ada waktu.

 

Pekerjaan ditunda karena, "Nanti juga bisa."

 

Seorang rekan menyampaikan ide, tetapi dipotong sebelum selesai berbicara karena kita merasa sudah tahu jawabannya.

 

Ada masalah lintas bidang, tetapi yang muncul justru kalimat, "Itu bukan bagian saya."

 

Masyarakat datang dengan kebingungan. Jawaban yang diterima memang sesuai prosedur, tetapi tidak membuat mereka merasa terbantu.

 

Semuanya terlihat kecil.

 

Tidak melanggar hukum.

 

Tidak masuk berita.

 

Namun, kebiasaan-kebiasaan kecil itulah yang perlahan membentuk budaya.

 

Ketika komunikasi mulai melemah, orang lebih banyak berasumsi daripada bertanya.

 

Ketika kolaborasi menurun, setiap orang sibuk menyelesaikan pekerjaannya sendiri tanpa melihat tujuan bersama.

 

Ketika rasa memiliki terhadap organisasi memudar, pekerjaan dilakukan sekadar menggugurkan kewajiban.

 

Ketika empati dalam pelayanan berkurang, masyarakat mulai merasa berhadapan dengan prosedur, bukan dengan manusia yang ingin membantu.

 

Lama-kelamaan, retakan kecil itu saling bertemu.

 

Yang tadinya hanya kebiasaan berubah menjadi budaya.

 

Yang tadinya budaya berubah menjadi sistem.

 

Dan ketika sistem mulai terbiasa dengan pembiaran, integritas organisasi mulai berlubang.

 

Mungkin itulah sebabnya kita sering terkejut melihat kasus-kasus besar. Padahal, kasus besar sering kali hanyalah puncak gunung es. Di bawahnya, ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang sudah terlalu lama dianggap wajar.

 

Karena itu, menjaga integritas tidak selalu dimulai dari pengawasan yang lebih ketat. Menjaga integritas justru dimulai dari keberanian memperbaiki hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari.

 

Berani datang tepat waktu sebagai bentuk menghargai orang lain.

 

Berani mendengarkan pendapat rekan kerja sampai selesai.

 

Berani membantu proses yang sebenarnya bukan tugas kita, demi kelancaran pelayanan.

 

Berani berkata jujur ketika terjadi kesalahan.

 

Berani memperlakukan setiap orang secara adil, tanpa membedakan kedekatan atau kepentingan.

 

Integritas ternyata bukan hanya soal menolak melakukan yang salah.

 

Integritas adalah keberanian terus-menerus melakukan yang benar, bahkan ketika tidak ada yang melihat.

 

Di banyak organisasi, termasuk instansi pelayanan publik, amanah itu sesungguhnya sederhana: menjaga kepastian, menjaga keadilan, dan menjaga kepercayaan masyarakat.

 

Ketiganya tidak lahir hanya dari aturan atau sistem. Ketiganya lahir dari budaya kerja yang dibangun setiap hari melalui komunikasi yang sehat, kolaborasi yang kuat, rasa memiliki terhadap organisasi, dan pelayanan yang penuh empati.

 

Mungkin inilah saatnya kita berhenti hanya bertanya, "Mengapa korupsi masih terjadi?"

 

Lalu mulai bertanya kepada diri sendiri,

 

*"Retakan kecil apa yang hari ini masih saya anggap biasa?"*

 

Karena setiap retakan yang kita perbaiki hari ini adalah cara kita menjaga agar integritas tidak runtuh di kemudian hari.

 

Dan mungkin, perubahan besar memang selalu dimulai dari keberanian memperbaiki kebiasaan-kebiasaan kecil yang selama ini kita biarkan.


Bagikan postingan ini
Hubungi Kami Via Whatsapp