Jalan Perumnas No.7 Condongcatur Depok, Sleman, Yogyakarta

081 226 888 844

MAKNA MENGUCAPKAN MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN DI HARI LEBARAN. (Memaknai Momentum Hari Kemenangan)


MAKNA MENGUCAPKAN  MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN DI HARI LEBARAN.

(Memaknai Momentum Hari Kemenangan)

 

Opening:

“Iya ya… selama ini saya hanya mengucapkannya saja…”

Setiap Lebaran kita terbiasa mengucapkan kalimat yang sama: mohon maaf lahir dan batin. Kita kirim pesan, berjabat tangan, kadang sambil tersenyum dan saling mendoakan. Rasanya hangat, rasanya baik.

Tapi kalau kita berhenti sebentar dan jujur pada diri sendiri, mungkin pernah juga muncul pertanyaan kecil di hati: selama ini saya benar-benar memaafkan tidak ya? Atau permintaan maaf yang saya ucapkan itu benar-benar saya rasakan tidak ya?

Karena kenyataannya, memaafkan dan meminta maaf itu tidak selalu mudah.

Kadang ada orang yang menyakiti kita cukup dalam. Kata-katanya tajam, sikapnya melukai. Yang membuat hati semakin berat, orang itu juga tidak meminta maaf. Tidak ada penyesalan, bahkan mungkin ia merasa tidak bersalah.

Di situ biasanya muncul rasa benci, marah, atau sakit hati yang tidak mudah hilang.

Tapi menariknya, kalau kita terus menyimpan luka itu, yang paling lama merasakannya justru diri kita sendiri. Seperti luka yang tidak dibersihkan, ia tidak sembuh-sembuh. Sesekali mungkin terasa reda, tapi ketika diingat lagi, rasanya muncul kembali.

Di sinilah memaafkan menjadi penting.

Bukan semata-mata demi orang yang bersalah, tapi demi keadilan bagi diri kita sendiri. Kita berhak hidup lebih tenang. Kita berhak tidak terus membawa beban emosi yang melelahkan itu.

Memaafkan sebenarnya seperti mengambil kembali hak kita untuk damai. Hak untuk tidak terus merasa terluka oleh peristiwa yang sudah terjadi.

Dan memaafkan tidak selalu berarti hubungan harus kembali seperti dulu. Dua hal itu berbeda. Kita bisa memaafkan seseorang tanpa harus kembali dekat dengannya. Kadang menjaga jarak justru lebih sehat.

Yang penting hati kita tidak lagi memelihara luka.

Kalau memaafkan terasa berat, tidak apa-apa dilakukan pelan-pelan. Salah satu cara sederhana yang sering membantu adalah menulis. Tulis saja semua yang ingin kita katakan kepada orang yang menyakiti kita. Ungkapkan luka, kecewa, marah, lalu akhiri dengan keputusan untuk memaafkan. Surat itu tidak perlu dikirim. Cukup ditulis.

Sering kali setelah menulis, hati terasa lebih lega. Seperti ada ruang yang kembali lapang.

Sebaliknya, ada juga saat ketika kita berada di posisi yang bersalah. Kita sadar telah melukai orang lain. Hati menjadi gelisah, bahkan stres karena ingin meminta maaf.

Sebenarnya rasa bersalah itu tanda yang baik. Artinya hati kita masih hidup. Kita masih punya kesadaran bahwa tindakan kita tidak adil bagi orang lain.

Namun setelah rasa bersalah, sering muncul perasaan lain: malu.

Di sinilah penting membedakannya.

Rasa bersalah biasanya fokus pada tindakan: saya melakukan kesalahan.

Sedangkan rasa malu sering menyerang diri kita: saya ini orang yang buruk.

Kalau rasa bersalah mendorong kita memperbaiki diri, rasa malu justru sering membuat kita berhenti bergerak. Kita terlalu sibuk menyalahkan diri sendiri sampai lupa memperbaiki keadaan.

Padahal orang baik bukanlah orang yang tidak pernah salah. Orang baik adalah orang yang bersedia memperbaiki dirinya setelah melakukan kesalahan.

Karena itu ketika kita ingin meminta maaf, fokuslah pada hal-hal yang bisa kita lakukan. Ungkapkan dengan jujur bahwa kita bersalah. Sampaikan keinginan untuk bertanggung jawab. Jika ada kerugian yang kita sebabkan, berusahalah memperbaikinya. Dan berjanji dengan sungguh-sungguh untuk tidak mengulanginya.

Itulah permintaan maaf yang tulus, bukan sekadar basa-basi.

Apakah orang lain akan memaafkan kita? Itu urusan hati mereka. Mereka juga manusia seperti kita—pernah terluka, ingin memaafkan, tapi kadang belum tahu caranya.

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, kalimat mohon maaf lahir dan batin sering terasa seperti tradisi yang lewat begitu saja.

Namun kalau kita memaknainya lebih dalam, momen ini sebenarnya sangat sakral. Kita sedang membersihkan hubungan antar manusia, sekaligus merendahkan hati di hadapan Allah.

Memohon ampun kepada Allah tidak pernah tertolak. Tetapi hati yang layak menerima ampunan adalah hati yang merendah dengan khusyuk.

Diampuni oleh Allah adalah karunia. Tetapi merendahkan hati adalah pilihan yang bisa kita lakukan.

Dan mungkin, salah satu cara paling sederhana untuk merendahkan hati itu adalah berani meminta maaf kepada orang yang kita lukai, serta belajar memaafkan orang yang pernah melukai kita.

Semoga di momen hari kemenangan ini, kata “maaf” yang kita ucapkan tidak lagi sekadar kalimat. Tetapi benar-benar menjadi jalan bagi hati kita untuk lebih tenang, lebih lapang, dan lebih dekat kepada Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Dan mungkin kemenangan yang paling indah adalah ketika kita berani berkata dalam hati:

"Ya Allah, aku memang belum sempurna. Tapi aku ingin menjadi hamba yang mau memperbaiki diri."

Karena sering kali, pintu ampunan Allah terbuka lebar justru untuk mereka yang datang dengan hati yang paling rendah.

Semoga di hari kemenangan ini, kita benar-benar pulang dengan hati yang lebih bersih.

Lebih ringan.

Dan lebih damai.

 “Hari kemenangan bukan ketika kita selesai berpuasa, tetapi ketika hati kita benar-benar berani memaafkan dan merendah untuk meminta maaf.”

 

 

#Isnurin Bonowiyati

#Productifity Specialist

#Ramadhan Bermakna

#Lebaran 2026

#Ardhana Training dan Outing


Bagikan postingan ini
Hubungi Kami Via Whatsapp