Marah di Kantor Boleh... Tapi Jangan Sampai Emosi yang Naik Jabatan
Belakangan ini saya sering bertanya kepada diri sendiri.
Kenapa ya... orang-orang sebenarnya pintar, tetapi suasana kerja tetap melelahkan?
Semakin dipikir, saya kok merasa penyebabnya bukan pekerjaan.
Bukan target.
Bukan deadline.
Melainkan... cara kita membawa emosi ke dalam komunikasi.
Saya juga pernah melakukannya.
Pernah membalas chat dengan nada yang lebih tajam daripada yang saya kira.
Pernah terlalu cepat menyimpulkan orang.
Pernah diam terlalu lama karena kecewa.
Pernah berharap orang lain mengerti, padahal saya sendiri belum benar-benar menjelaskan.
Semakin bertambah usia, saya justru semakin sadar...
ternyata mengelola pekerjaan itu lebih mudah daripada mengelola hati manusia.
Termasuk hati saya sendiri.
Lalu saya punya pertanyaan sederhana.
Memangnya marah di kantor boleh?
Ya... boleh.
Sedih?
Boleh.
Kecewa?
Silakan.
Murung sebentar?
Ya, manusia kok.
Yang mulai jadi masalah adalah ketika emosi itu mendapat jabatan baru.
Marah berubah menjadi kebiasaan.
Sedih berubah menjadi identitas.
Kecewa berubah menjadi cara memandang semua orang.
Sedikit dikritik langsung tersinggung.
Sedikit tidak diajak langsung merasa tidak dihargai.
Sedikit berbeda pendapat langsung merasa diserang.
Akhirnya bukan pekerjaannya yang melelahkan.
Tetapi isi kepala kita sendiri.
Saya yakin hampir semua orang pernah berada di titik itu.
Saya juga.
Ada satu kalimat yang sering saya dengar.
"Bukan salah saya. Saya memang belum pernah mengalami."
Awalnya terdengar masuk akal.
Tetapi lama-lama saya bertanya lagi pada diri sendiri.
Kalau begitu...
apakah pengalaman menjadi satu-satunya jalan untuk bertumbuh?
Kalau harus mengalami semuanya sendiri...
kapan selesainya?
Haruskah kita gagal dulu baru belajar?
Haruskah kehilangan dulu baru mengerti?
Haruskah terluka dulu baru menjadi dewasa?
Bukankah kita diberi kemampuan untuk belajar dari pengalaman orang lain?
Mendengarkan.
Mengamati.
Bertanya.
Memodel orang-orang yang lebih dahulu berjalan.
Saya mulai merasa...
menjadi pembelajar jauh lebih penting daripada sekadar menjadi orang yang berpengalaman.
Karena pengalaman memang guru terbaik.
Tetapi kerendahan hati untuk belajar... adalah murid terbaik.
Lucunya, pelajaran ini justru paling sering saya temukan di rumah.
Sebagai orang tua, kita ingin anak tidak sibuk bermain HP.
Eh... yang lebih dulu membuka HP saat makan justru kita.
Kita ingin anak tidak mudah marah.
Tetapi mereka melihat ayah dan ibunya saling menyela saat berbicara.
Kita ingin anak berani meminta maaf.
Tetapi mereka hampir tidak pernah melihat orang tuanya meminta maaf.
Saya tidak sedang menyalahkan siapa-siapa.
Saya juga sedang belajar.
Karena ternyata parenting bukan dimulai saat kita berbicara kepada anak.
Tetapi saat kita berbicara kepada diri sendiri.
"Sudahkah aku meletakkan HP lebih dulu?"
"Sudahkah aku mendengar pasangan sampai selesai?"
"Sudahkah aku mengapresiasi usaha kecil anak hari ini?"
Kadang saya merasa...
anak-anak itu bukan pendengar yang hebat.
Mereka peniru yang hebat.
Dan itu sering membuat saya bercermin.
Semakin lama saya belajar tentang komunikasi, saya justru semakin sedikit berbicara tentang teknik.
Karena teknik hanya bekerja beberapa saat.
Yang lebih menentukan adalah kualitas kesadaran kita.
Kesadaran bahwa setiap orang sedang membawa ceritanya masing-masing.
Ada yang sedang cemas.
Ada yang sedang takut.
Ada yang sedang berjuang menjaga keluarganya.
Ada yang sedang menyembunyikan air mata sambil tetap tersenyum di kantor.
Mungkin karena itulah kita sering salah paham.
Kita hanya melihat perilakunya.
Padahal kita tidak melihat cerita di belakangnya.
Dan bukankah kita juga ingin diperlakukan seperti itu?
Dipahami lebih dulu sebelum dihakimi.
Saya belum merasa sudah berhasil mengelola emosi.
Masih belajar.
Masih kadang terpancing.
Masih kadang menyesal setelah berbicara.
Mungkin pembaca artikel ini juga sedang mengalami hal yang sama.
Kalau iya...
berarti kita sedang belajar di kelas yang sama.
Saya percaya satu hal.
Emosi tidak bisa selalu kita pilih.
Tetapi respons selalu bisa kita latih.
Keadaan di luar diri kita akan terus berubah.
Orang akan datang dan pergi.
Pujian berganti kritik.
Keberhasilan berganti tantangan.
Yang semoga terus bertumbuh hanyalah satu...
cara kita merespons semuanya.
Kalau suatu hari nanti saya dikenal sebagai komunikator yang baik, saya berharap itu bukan karena saya selalu tahu harus berkata apa.
Melainkan karena saya tidak pernah berhenti belajar memahami manusia.
Termasuk... belajar memahami diri sendiri.
Dan kalau Bapak, Ibu, atau teman-teman pembaca punya cara yang lebih baik untuk mengelola emosi, sungguh saya ingin mendengarnya.
Karena rupanya, menjadi dewasa bukan tentang siapa yang paling benar. Tetapi tentang siapa yang paling bersedia terus belajar.
#Isnurin Bonowiyati
#Productifity Specialist
#Training Emosi dan Komunikasi