Resign atau Bertahan yaa ?
Menyikapi dilema resign atau bertahan ? Aku cocok kerja jadi apa ya?
Cintailah kerjaanmu kawan… kalimat itu begitu sering kita dengar. Mudah diucapkan, mudah dijadikan slogan. Namun benarkah kita sudah bekerja dengan cinta?
Mungkin kita datang tepat waktu, menyelesaikan target, bahkan menerima gaji setiap bulan. Tetapi apakah jiwa kita ikut pulang dengan tenang?
Tidak sedikit orang yang sebenarnya sedang melukai dirinya sendiri saat bekerja. Tubuhnya hadir, pikirannya sibuk, tetapi hatinya menolak pekerjaannya. Ia bekerja hanya demi menyelesaikan daftar tugas. Hanya sebatas job desk. Lama-kelamaan pekerjaan kehilangan makna.
Yang lebih menyedihkan, luka di dalam diri sering berubah menjadi luka bagi orang lain.
Nada bicara menjadi keras. Emosi kecil dibawa ke kantor. Rekan kerja menjadi sasaran. Pelanggan merasa tidak dihargai. Lingkungan kerja dipenuhi sampah-sampah emosi yang tidak pernah disadari.
Bahkan ada pekerjaan yang menghasilkan keuntungan besar, tetapi meninggalkan penderitaan bagi banyak orang. Di atas kebahagiaan kita, ada orang lain yang kehilangan ketenangan. Ketika itu terjadi, kita perlu bertanya kembali, "Benarkah ini rezeki yang menenangkan?"
Lalu bagaimana jika lingkungan kerja tidak sehat? Atasan galak. Teman kerja tidak mendukung.
Haruskah langsung pindah?
Kadang memang pindah adalah pilihan terbaik. Namun sering kali, sebelum pindah tempat, yang perlu lebih dulu berpindah adalah cara memaknai pekerjaan.
Karena jika maknanya belum berubah, kita bisa saja membawa luka yang sama ke tempat kerja berikutnya.
Bagaimana jika ada tawaran gaji yang jauh lebih besar?
Tidak ada yang salah dengan penghasilan yang lebih baik. Namun ketika uang menjadi satu-satunya alasan, kita perlahan kehilangan kompas. Kita mulai rela mengorbankan hati, keluarga, kesehatan, bahkan nilai-nilai yang kita yakini.
Padahal rezeki bukan sekadar angka di rekening. Rezeki adalah ketenangan saat pulang.
Rezeki adalah tidur tanpa rasa bersalah. Rezeki adalah hati yang tetap hidup setelah bekerja seharian.
Seorang ibu yang mengasuh anak pun sedang bekerja. Ketika ia mengeluh sepanjang hari, amanah itu tidak menjadi lebih ringan. Ketika ia mengasuh dengan cinta, lelahnya berubah menjadi ibadah.
Begitulah hakikat bekerja.Bekerja bukan hanya mencari nafkah.
Bekerja adalah kesempatan mengalirkan bakat yang Allah titipkan.Bekerja adalah tempat melatih kesabaran.Bekerja adalah ruang bertumbuh.Bekerja adalah cara kita memberi manfaat kepada dunia.
Maka sebelum bertanya, "Di mana pekerjaan yang tepat?", mungkin lebih penting bertanya, "Siapa sebenarnya diriku?"
Kenali apa yang membuatmu bersemangat tanpa dipaksa.
Temukan syakilahmu, kecenderungan alami yang Allah titipkan.
Berhentilah memaksa menjadi orang lain. Tidak semua orang diciptakan untuk berdiri di panggung yang sama.
Ada yang bersinar saat memimpin. Ada yang bersinar saat melayani.
Ada yang bersinar saat mengajar.Ada yang bersinar saat mendengarkan.
Semua memiliki cahaya masing-masing.
Ketika seseorang bekerja sesuai fitrahnya, tantangan tetap ada. Jurang karier tetap harus dilewati. Namun ia menjadi lebih tangguh karena berjalan di jalan yang memang disiapkan untuknya.
Lepaskan penjara untung dan rugi dalam setiap tindakanmu.
Fokuslah pada satu hal.Bekerjalah dengan baik.Titik.
Jika suatu hari harus menghadapi utang, kesulitan ekonomi, atau ujian hidup, jangan biarkan itu mengubah caramu memperlakukan orang lain.
Tetaplah bekerja dengan jujur.Tetaplah belajar.Tetaplah memperbaiki diri.Tetaplah menjadi orang yang menenangkan.
Karena pada akhirnya, pekerjaan terbaik bukanlah yang membuat kita paling kaya.Melainkan pekerjaan yang membuat kita pulang dengan hati yang tetap hidup.
Bekerja dengan cinta bukan berarti tanpa lelah. Bekerja dengan cinta berarti tidak kehilangan jiwa di tengah pekerjaan.
Dan ketika jiwa tetap hidup, pekerjaan bukan lagi beban.Ia menjadi jalan ibadah. Ia menjadi jalan manfaat. Ia menjadi jalan pulang kepada-Nya.
Jadi resign gak ? yuk kita perbaiki dulu saja yang bisa kita perbaiki.
#Isnurin Bonowiyati
#Ardhana EO Training & Outing Jogjakarta
#Productivity Specialist