THE POWER OF GESTURE
Kapasitas komunikasi Anda bisa naik level.
Pernahkah Anda gagal menyampaikan sesuatu yang sebenarnya sangat Anda kuasai?
Saya pernah.
Suatu ketika saya sedang berpidato. Materinya saya tahu. Kata-katanya sudah saya siapkan. Bahkan saya cukup percaya diri dengan apa yang ingin saya sampaikan.
Tetapi ada satu masalah.
Tangan saya tidak bersahabat.
Terlalu banyak bergerak. Kadang menekan ke depan. Kadang menunjuk. Kadang bergerak tanpa arah.
Saya baru sadar: ternyata tangan bisa “berbicara” lebih keras daripada mulut.
Sejak itu saya mulai memperhatikan sesuatu yang sering kita anggap sepele: gesture.
Bayangkan seorang dokter menjelaskan kondisi pasien dengan senyum yang hangat, tatapan yang tenang, dan tubuh yang sedikit condong mendengarkan.
Bandingkan dengan dokter yang mengatakan kalimat yang sama, tetapi matanya sibuk melihat layar, tubuhnya menjauh, dan tangannya terus mengetik.
Kata-katanya sama. Maknanya bisa sangat berbeda.
Seorang pemimpin dalam rapat pun demikian.
Kalimat, “Saya percaya pada kemampuan tim ini,” akan terasa berbeda ketika disampaikan dengan telapak tangan terbuka, kontak mata yang hangat, dan posisi tubuh yang hadir.
Gesture bukan hiasan komunikasi.
Gesture adalah bagian dari pesan.
Saya juga teringat seorang polisi yang menginterogasi anak SMA karena tidak membawa SIM. Cara tubuhnya bergoyang, cara tangannya menunjuk, cara ia berdiri di hadapan anak itu—bisa jadi akan dikenang seumur hidup.
Mungkin anak itu tumbuh dengan rasa takut kepada polisi.
Atau justru suatu hari bercita-cita menjadi polisi karena pernah bertemu sosok polisi yang memperlakukannya dengan baik.
Begitu dahsyatnya sebuah gesture.
Tangan—lengan, jari, bahkan telapak—bisa memberikan rasa menekan, terbuka, mengancam, mengajak, atau meyakinkan.
Lidah memang tak bertulang.
Tetapi kata-kata yang sama bisa terdengar jujur atau bohong, tergantung bagaimana mata, wajah, tangan, bahkan kaki ikut “berbicara”.
Dan ada satu gesture yang sering kita lupakan:
tersenyum kepada diri sendiri.
Kita bisa sangat manis tersenyum kepada klien, pasien, peserta training, teman, bahkan keluarga.
Tetapi… kapan terakhir kali kita tersenyum kepada diri sendiri di depan kaca?
Maka, yuk mulai latihan kecil.
Sadari posisi tangan ketika berbicara.
Latih kontak mata.
Perhatikan ekspresi wajah.
Belajar membuka telapak ketika mengajak.
Kurangi gesture yang menekan.
Dan yang paling penting: hadirkan ketulusan di balik setiap gerakan.
Karena gesture Anda bukan sekadar gerakan tubuh.
Gesture adalah hadiah kecil yang Anda berikan kepada orang lain melalui kehadiran Anda.
Ketika gesture Anda selaras dengan kata-kata, kapasitas komunikasi Anda naik level.
Klien lebih percaya.
Tim lebih nyaman.
Pendengar lebih terhubung.
Pasien lebih tenang.
Keluarga merasa lebih dicintai.
Bisa jadi, dunia memang tidak selalu membutuhkan kata-kata yang lebih banyak.
Dunia hanya membutuhkan kehadiran kita yang lebih terasa.
Yuk, gaskeun.
Andalkan gesture Anda.
Biarkan kehadiran Anda berbicara.
Isnurin Bonowiyati
Productifity Specialist
Komunikasi dan Gesture