Taat Berqurban Adalah Rejeki Iman yang Hakiki
#Seberapa takut kita ketika menghadapi ujian kehilangan ?
#Seberapa kita terhubung dengan ALLAH SWT
Sering aku mikir…
kenapa ya manusia itu kalau disuruh milih rejeki, pasti mintanya yang kelihatan?
Pengen sehat.
Pengen banyak uang.
Pengen keluarga baik-baik saja.
Pengen karir lancar.
Pengen punya ilmu.
Dan itu semua memang baik. Sangat baik malah.
Tapi lucunya, setelah dikasih sebagian dari itu… kok hati tetap bisa gelisah juga ya?
Sudah punya penghasilan, takut kurang.
Sudah sehat, takut sakit.
Sudah punya keluarga, takut kehilangan.
Sudah punya ilmu, takut gagal dan takut diremehkan.
Aku pernah ada di titik itu.
Ngejar banyak hal supaya hidup terasa aman dan tenang.
Tapi ternyata rasa aman itu seperti ember bocor. Diisi terus, tetap saja khawatir lagi, takut lagi, capek lagi.
Sampai akhirnya aku pelan-pelan sadar…
mungkin yang bikin hati tentram itu bukan semata isi hidupnya.
Tapi apa yang melandasi isi hidup itu.
Ada orang hartanya biasa saja tapi tidurnya nyenyak.
Ada yang hartanya banyak tapi pikirannya penuh ancaman.
Ada yang hidupnya sederhana tapi wajahnya adem.
Ada yang semua serba ada tapi mudah panik dan mudah putus asa.
Bedanya di mana?
Mungkin di iman dan tawakal.
Dan anehnya… rejeki yang satu ini justru sering paling jarang diminta.
Padahal ini pondasinya.
Aku jadi merasa makna Qurban itu ternyata dalam sekali.
Bukan cuma soal menyembelih hewan.
Tapi belajar menyembelih rasa takut dalam diri sendiri.
Takut kehilangan.
Takut masa depan.
Takut hidup tidak sesuai harapan.
Takut kalau semua tidak terkendali.
Bukankah itu yang dirasakan manusia tiap hari?
Nabi Ibrahim diuji bukan saat tidak punya apa-apa.
Beliau justru diuji saat punya sesuatu yang sangat dicintai.
Lalu Allah ingin menunjukkan satu hal penting:
“Hatimu ini bergantung kepada siapa?”
Dan ternyata memang begitu ya hidup.
Kadang yang paling membuat kita lelah bukan masalahnya… tapi rasa ingin menggenggam semuanya terlalu kuat.
Ingin semua aman.
Ingin semua sesuai rencana.
Ingin semua tidak hilang.
Padahal hidup memang tempat berubah.
Hari ini sehat, besok belum tentu.
Hari ini dipuji, besok bisa saja dicaci.
Hari ini bersama, suatu saat bisa berpisah.
Kalau hati tidak punya tawakal, hidup jadi mudah goyang.
Makanya sekarang kalau ditanya ingin rejeki apa, rasanya aku ingin minta satu ini dulu:
“Ya Allah, beri aku rejeki iman dan tawakal.”
Karena kalau dua itu ada, hidup jadi beda rasanya.
Punya harta, tidak terlalu sombong.
Tidak punya, tidak terlalu hancur.
Dikasih kesehatan, bersyukur.
Diuji sakit, masih punya harapan.
Dikasih keluarga, dijaga dengan cinta.
Kehilangan, tetap percaya Allah tidak meninggalkan.
Mungkin inilah kenapa orang yang tawakal wajahnya bisa lebih tenang.
Bukan karena hidupnya tanpa masalah.
Tapi karena hatinya tidak sendirian membawa hidup.
Taat berqurban akhirnya bukan hanya tentang mampu membeli hewan qurban.
Namun tentang keberanian melatih hati agar lebih percaya kepada Allah daripada rasa takutnya sendiri.
Dan mungkin…
itulah rejeki iman yang hakiki.
#productifity specialist
#Idul Adha dan Self leadership
#Takwa dan Keterhubungan dengan ALLAH