BIANG KEROKNYA KADANG YA… KITA SENDIRI
Leadership kecil-kecilan dari diri sendiri yang sering diremehkan
Akhir-akhir ini saya sering memperhatikan satu hal.
Banyak orang lelah.
Banyak yang emosinya pendek.
Mudah sinis.
Mudah kecewa.
Mudah menyalahkan keadaan.
Sedikit-sedikit:
pemerintah salah,
kantor salah,
pasangan salah,
ekonomi salah,
algoritma salah,
masa lalu salah.
Dan lucunya…
kadang setelah dipikir agak tenang…
eee… ternyata biang keroknya ya diri sendiri juga. He he.
Ini bukan sedang menyalahkan diri secara berlebihan ya.
Tetapi mencoba jujur melihat realita.
Karena manusia memang punya bakat alami:
lebih mudah melihat kesalahan luar dibanding membereskan isi kepalanya sendiri.
Tidak naik kelas… salah guru.
Jualan sepi… salah keadaan.
Kerja tidak berkembang… salah lingkungan.
Hubungan renggang… pasangan terus yang disorot.
Padahal mungkin pertanyaan sederhananya:
“emang kitanya sudah benar-benar belajar, bertumbuh dan layak naik kelas belum?”
Nah… kalimat seperti ini biasanya bikin ego manusia agak meringis kecil. 😄
Karena ternyata lebih nyaman menjadi korban keadaan.
Kalau semua salah dunia luar, kita tidak perlu berubah.
Tidak perlu evaluasi.
Tidak perlu bercermin.
Tinggal ngomel.
Makanya media sosial kadang jadi tempat favorit untuk “berjamaah emosional”.
Awalnya cuma buka HP sebentar.
Lalu lihat berita.
Lalu baca komentar marah-marah.
Lalu ikut panas.
Lalu merasa hidup paling susah.
Lalu menyimpulkan masa depan suram.
Padahal…
beras di rumah belum dimasak,
laporan belum selesai,
dan badan sendiri kurang tidur.
Kadang badan kita di rumah, tapi emosinya keliling satu negara.
Saya jadi sadar…
Leadership hari ini mungkin bukan soal memimpin panggung besar dulu.
Tetapi:
mampukah kita memimpin arah pikiran sendiri?
Karena kalau tidak hati-hati, pikiran itu suka liar.
Sedikit masalah langsung membuat film panjang.
Nada chat agak berbeda sedikit…
pikiran sudah bikin skenario pengkhianatan 7 season.
Kerjaan ditegur sedikit…
langsung merasa tidak dihargai seumur hidup.
Padahal problem aslinya mungkin kecil.
Yang membesar itu:
asumsi,
emosi,
dan kebiasaan mengulang drama di kepala.
Akhirnya kita tenggelam bukan oleh kenyataan…
tetapi oleh narasi sendiri.
Dan ini capek sekali.
Makanya saya mulai belajar menerima satu hal sederhana:
tidak semua hal harus dipikir terlalu dalam.
Tidak semua berita harus masuk hati.
Tidak semua komentar harus direspon.
Tidak semua masalah harus dibahas berulang-ulang sampai emosinya mengembang seperti adonan donat.
Karena hidup nyata tetap berjalan.
Anak tetap butuh perhatian.
Tubuh tetap perlu istirahat.
Kerjaan tetap harus diselesaikan.
Ibadah tetap perlu dijaga.
Kadang kita terlalu sibuk memikirkan dunia…
sampai lupa membereskan hidup sendiri.
Padahal leadership yang paling berat sering justru: mengendalikan diri saat ingin menyalahkan keadaan.
Berani berkata: “oh… mungkin ada bagian diri saya yang memang perlu dibenahi.”
Kalimat itu sederhana.
Tetapi matang.
Bukan berarti semua kesalahan ada pada diri kita. Tentu tidak.
Ada keadaan yang memang sulit.
Ada sistem yang memang melelahkan.
Ada orang-orang yang memang menyakitkan.
Tetapi kalau setiap hari energi habis untuk menyalahkan luar…kita kehilangan tenaga untuk memperbaiki dalam.
Dan anehnya…
saat mulai jujur pada diri sendiri,
emosi malah lebih ringan.
Tidak perlu terlalu julid.
Tidak perlu sibuk membandingkan hidup.
Tidak perlu perang opini tiap hari.
Tinggal fokus:
hari ini saya bisa lebih baik di bagian mana? Mungkin itu leadership kecil-kecilan yang sering sulit dilakukan.
Bukan memimpin dunia dulu.
Tetapi tidak ikut tenggelam oleh drama pikiran sendiri.
#Leadership dan Produktifitas Training
#Isnurin Bonowiyati
#Ardhana Outbound dan Outing
#Ardhana EO Outing