BUKAN SEKEDAR DOA SEMOGA PANJANG UMUR YA….
#Melewati usia purnabakti tanpa riweh
Ada fenomena unik yang mungkin anda atau saya dan orang tua anda juga ngalamin
Sudah usia matang, tapi habis posting foto malah tambah gelisah.
“Yang lihat kok sedikit ya?”
“Upload lagi gak ya?”
“Masih terlihat kece gak sih?”
Habis dolan sana-sini juga sama.
Waktu jalan rasanya seru.
Foto banyak.
Story penuh.
Tapi pas pulang… kok malah capek batin.
Bahkan kadang habis pengajian, habis ngaji, habis kumpul komunitas… masih ada rasa belum ayem juga.
Masih gampang membandingkan hidup.
Masih pengen dipuji.
Masih pengen dianggap penting.
Masih takut gak dilihat.
Kemana aja makna hidup selama ini ..
Padahal usia sudah gak muda.
Pengalaman hidup sudah seabrek.
Harusnya makin tenang dong?
Ternyata belum tentu.
Karena menjadi tua itu otomatis.Tapi menjadi jernih… itu latihan.
Dan saya rasa banyak usia emas hari ini sedang mengalami fase yang sama.
Bukan berarti traveling salah.
Bukan berarti upload foto salah.
Bukan berarti aktif medsos salah.
Enggak juga.
Tapi kadang ada pertanyaan kecil yang diam-diam ikut nongol:
“Saya masih berarti gak ya?”
“Saya masih dibutuhkan gak?”
“Masih ada yang lihat saya gak?”
Nah, capeknya kadang di situ.
Karena ternyata yang dicari bukan sekadar ramai.
Tapi rasa bermakna.
Dulu waktu masih sibuk kerja, hidup jelas ritmenya.
Ada jabatan.
Ada posisi.
Ada rutinitas.
Ada yang mencari.
Ada yang membutuhkan.
Lalu pelan-pelan hidup berubah.
Anak-anak punya dunia sendiri.
Jabatan selesai.
Tenaga mulai beda.
Lingkungan berubah.
Dunia digital makin rame.
Dan diam-diam muncul pertanyaan yang bikin bengong:
“Kalau semua atribut itu lepas… saya ini siapa?”
Siapa saya tanpa jabatan dulu?
Siapa saya tanpa masa lalu yang dulu dibanggakan?
Siapa saya tanpa peran-peran itu?
Nah loh…
Ternyata gak gampang jawabnya.Karena selama ini kita sering terlalu sibuk menjadi “seseorang”. Sampai lupa nyaman jadi diri sendiri.
Makanya ada yang setelah pensiun malah makin sensitif.
Makin gampang curhat di story.
Makin pengen terlihat aktif terus.
Atau makin hidup di nostalgia masa lalu.
Padahal mungkin yang dibutuhkan bukan tambah ramai.Tapi tambah jernih.
Dan lucunya, makin ke sini saya malah merasa:
hidup itu gak perlu terlalu banyak.
Cukup 2 prinsip hidup yang benar-benar dijaga.
Misalnya:
jujur dan amanah.
Atau:
sadar diri dan bermanfaat.
Lalu cukup 2 aktivitas yang bikin jiwa tetap hidup.
Misalnya:
belajar dan melayani.
Atau:
ibadah dan berkarya.
Dan ini yang paling lucu…
makin tua kadang merasa:
cukup 2 teman saja ternyata sudah nikmat banget.
Yang gak penuh drama.
Gak bikin capek hati.
Gak sibuk pencitraan.
Bisa diajak ngobrol.
Bisa diajak diam.
Dan tetap saling mendoakan.
Karena ternyata makin bertambah usia,
manusia bukan makin butuh keramaian.
Tapi makin butuh keteduhan.
Bukan makin butuh dilihat semua orang.
Tapi makin butuh nyaman dengan dirinya sendiri.
Maka mungkin doa terbaik memang bukan sekadar:
“Semoga panjang umur ? Umur yang seperti apa ?
Panjang umur…tapi tidak sibuk pakai topeng terus.
Panjang umur…tapi tetap mau belajar sadar diri.
Panjang umur…tapi makin bisa menikmati hidup sederhana tanpa harus selalu membuktikan sesuatu.
Karena ternyata ketenangan itu bukan datang saat hidup kita paling ramai.
Tapi saat hati kita mulai tidak terlalu riweh lagi.
met panjang umur semua ....
#isnurin bonowiyati
#produktifitas dimasa pensiun
#Ardhana Training dan Outing