Jalan Perumnas No.7 Condongcatur Depok, Sleman, Yogyakarta

081 226 888 844

STOP INGIN TERLIHAT HEBAT DAN KEREN DI PANGGUNG


STOP INGIN TERLIHAT HEBAT DAN KEREN DI PANGGUNG

 

Panggung bukan arena jualan diri .  Ketulusan diri yang diinginkan pendengar

 

Saya pernah melihat pembicara yang sebenarnya pintar, berpengalaman, bahkan punya jabatan bagus. Tetapi saat tampil di panggung, ada sesuatu yang terasa melelahkan.

Kalimatnya terlalu dibuat lucu.

Gesture-nya terlalu berusaha keren.

Terlalu banyak motivasi tempelan.

Terlalu sering ingin terlihat hebat.

Awalnya audiens masih memperhatikan. Lama-lama mulai sibuk sendiri. Ada yang main HP, mengobrol, bahkan wajahnya terlihat lelah mendengarkan.

Lucunya, semakin pembicara ingin terlihat luar biasa, justru semakin terlihat nervous.

Dan saya pernah menyadari… ternyata banyak orang mengalami hal yang sama saat public speaking. Bahkan mungkin termasuk saya sendiri.

Ketika diberi panggung, muncul dorongan:

•            “Ini kesempatan branding.”

•            “Harus tampil maksimal.”

•            “Harus bikin orang kagum.”

•            “Harus terlihat pintar.”

•            “Harus beda.”

•            “Harus keren.”

Akibatnya, fokus pembicara bergeser. Bukan lagi ingin menyampaikan pesan, tetapi ingin membuktikan diri. Di titik itu komunikasi mulai kehilangan ketulusan.

Padahal audiens sebenarnya sederhana. Mereka tidak terlalu membutuhkan pembicara yang sibuk terlihat hebat. Mereka lebih nyaman dengan orang yang:

•            tenang,

•            jelas,

•            manusiawi,

•            dan terasa tulus.

Saya pernah melihat trainer senior yang tampil sangat sederhana. Tidak banyak gaya. Tidak banyak jargon. Bahkan suaranya biasa saja. Tetapi ruangan hening mendengarkan.

Kenapa?

Karena ia tidak sibuk menjual dirinya. Ia fokus membantu audiens memahami sesuatu.

Ternyata “biasa-biasa aja” justru bisa menjadi sikap komunikasi yang luar biasa.

Karena saat seseorang terlalu ingin keren, tubuh biasanya ikut tegang:

•            bicara jadi terlalu cepat,

•            bercanda jadi dipaksakan,

•            energi jadi capek,

•            dan isi pesan malah tidak masuk.

Sementara orang yang nyaman menjadi “biasa” biasanya lebih stabil:

•            tidak terlalu haus tepuk tangan,

•            tidak terlalu sibuk pencitraan,

•            tidak terlalu takut dinilai.

Akhirnya komunikasi terasa lebih hidup.

Masalah terbesar public speaking sering bukan kurang skill. Tetapi terlalu ingin terlihat luar biasa.

Padahal panggung bukan tempat pembuktian ego. Panggung adalah tempat menyampaikan manfaat.

Maka mungkin kita perlu belajar:

STOP ingin keren.

Biasa aja di panggung.

Bukan berarti asal-asalan. Bukan berarti tidak belajar. Tetapi berhenti berlebihan demi terlihat hebat.

Lalu bagaimana caranya?

1. Fokus pada pesan, bukan penampilan diri

Sebelum tampil, tanyakan:“Saya ingin membantu audiens memahami apa?”

Bukan:“Bagaimana caranya supaya saya terlihat hebat?”

Saat fokus pada pesan, tubuh lebih rileks. Pikiran lebih jernih. Kita tidak sibuk memikirkan penilaian orang setiap detik.

Audiens pun lebih nyaman mendengarkan.

2. Berani tampil manusiawi

Tidak harus sempurna.

Tidak harus selalu lucu.

Tidak harus selalu energik.

Kadang justru pembicara yang terlalu sempurna terasa jauh dan melelahkan.

Berani mengakui:

•            gugup,

•            belajar,

•            pernah gagal,

•            atau masih bertumbuh,

malah membuat audiens merasa dekat.

Karena manusia lebih mudah terhubung dengan manusia, bukan dengan pencitraan.

3. Latih energi tenang, bukan energi heboh

Banyak orang mengira public speaking hebat harus selalu heboh.

Padahal ketenangan juga punya kekuatan besar.

Orang yang tenang:

•            lebih enak didengar,

•            lebih mudah dipercaya,

•            lebih jelas berpikir,

•            dan lebih stabil membawa suasana.

Kalem bukan berarti lemah. Kalem adalah tenaga yang terkontrol.

Dan menariknya, semakin seseorang matang dalam komunikasi, biasanya semakin sederhana caranya berbicara.

Karena ia sadar:

audiens tidak butuh pertunjukan ego.

Audiens butuh makna.

Mungkin itulah kenapa “biasa aja” justru bisa menjadi sikap yang luar biasa di panggung.

Karena saat seseorang berhenti sibuk terlihat keren, pesan mulai benar-benar sampai ke hati orang lain.

 

#Isnurin Bonowiyati

#Productivity Specialist

#Public Speaking Training

#Ardhana  EO OutBound  & Training


Bagikan postingan ini
Hubungi Kami Via Whatsapp