Jalan Perumnas No.7 Condongcatur Depok, Sleman, Yogyakarta

081 226 888 844

KENAPA TERLIHAT BODOH PADAHAL ANDA PINTAR


KENAPA TERLIHAT BODOH PADAHAL ANDA PINTAR

 

Jangan marah kalau disebut tidak capable yak….

 

Ada orang yang sebenarnya pintar. Cepat menangkap situasi. Ide banyak. Wawasannya luas. Bahkan sering jadi tempat bertanya orang lain.

Tapi anehnya… hidupnya malah terlihat berantakan.

Kerjanya telat.

Ngomongnya muter.

Sering lupa.

Emosinya meledak.

Sulit fokus.

Banyak drama di kepala.

Sedikit action nyata.

Akhirnya orang melihat:

“Kayaknya dia gak capable deh…”

Padahal bukan bodoh.

Cuma pikirannya terlalu ramai.

Saya pernah ketemu seseorang seperti ini. Kalau ngobrol, isi kepalanya keren banget. Bisa bahas ide bisnis, komunikasi, psikologi, sampai konsep hidup. Tapi saat diminta mengirim proposal sederhana… tiga hari belum selesai.

Kenapa?

Karena kepintarannya kalah oleh kebisingan pikirannya sendiri.

Dan diam-diam, ini terjadi pada banyak orang.

Kadang kita terlihat “bodoh” bukan karena IQ rendah. Tapi karena tidak mindful menjalani hidup.

Contohnya begini.

Ada orang yang sebenarnya tahu jawabannya, tapi terlalu sibuk takut dinilai. Akhirnya saat presentasi malah gugup, muter-muter, dan kehilangan inti pembicaraan. Setelah pulang baru kepikiran:

“Tadi harusnya aku ngomong gini…”

Ada juga yang sebenarnya kreatif. Ide kontennya banyak. Konsep training-nya bagus. Tapi karena terlalu banyak debat dalam kepala, semuanya berhenti di draft.

Tahu banyak.

Eksekusi sedikit.

Kelihatannya seperti malas atau tidak pintar, padahal yang terjadi adalah overload pikiran.

Lalu ada tipe yang kalau diajak ngobrol sebenarnya nyambung. Tapi saat orang lain bicara, dia tidak benar-benar mendengar. Kepalanya sibuk menyiapkan jawaban, membela diri, atau memikirkan masalah lain.

Akhirnya responnya tidak nyambung.

Orang mengira dia tidak peka.

Padahal pikirannya sedang ke mana-mana.

Ini juga sering terjadi di dunia kerja.

Karyawan pintar terlihat tidak kompeten hanya karena:

•            tidak fokus,

•            sering lupa detail,

•            menunda,

•            terlalu banyak multitasking,

•            dan hidup dalam mode buru-buru.

Ironisnya, makin pintar seseorang, kadang makin sulit diam.

Karena isi kepalanya terlalu aktif.

Sedikit-sedikit dianalisis.

Sedikit-sedikit dipikirkan.

Sedikit-sedikit dibayangkan dampaknya.

Akhirnya energi habis sebelum tindakan dimulai.

Dan ini yang jarang disadari:

pikiran yang terlalu ramai bisa membuat orang terlihat lebih “bodoh” dibanding kemampuan aslinya.

Bukan karena tidak mampu.

Tetapi karena tidak hadir penuh saat menjalani sesuatu.

Makanya ada orang yang IQ biasa saja tapi hidupnya stabil, tenang, dan produktif. Karena saat bekerja dia benar-benar bekerja. Saat mendengar dia benar-benar mendengar. Saat istirahat dia benar-benar istirahat.

Sementara yang terlalu hidup di kepala justru:

•            mudah kehilangan fokus,

•            mudah emosional,

•            sulit selesai,

•            dan sulit menikmati hidup.

Salah satu ciri paling umum sebenarnya sederhana:

sulit ada di “saat ini”.

Lagi makan mikirin kerja.

Lagi kerja mikirin penilaian orang.

Lagi ibadah mikirin masalah.

Lagi ngobrol sibuk dengan isi kepala sendiri.

Tubuh ada.

Pikiran tidak.

Dan lama-lama orang lain menangkap kesan:

“Dia tuh sebenarnya gimana sih?”

Padahal mungkin dia hanya lelah mental.

Mindfulness jadi penting bukan supaya terlihat zen atau sok tenang. Tapi supaya kemampuan asli kita tidak tenggelam oleh kebisingan batin sendiri.

Karena banyak orang gagal menunjukkan kualitas dirinya bukan karena kurang potensi…

tetapi karena:

•            overthinking,

•            terlalu ingin sempurna,

•            takut salah,

•            ingin terlihat hebat,

•            dan tidak pernah benar-benar hadir.

Lucunya lagi, orang yang benar-benar pintar biasanya justru terlihat sederhana.

Tidak sibuk terlihat paling tahu.

Tidak reaktif di semua situasi.

Tidak buru-buru membuktikan diri.

Karena energinya dipakai untuk menjalani hidup, bukan untuk terus bertarung di dalam kepala.

Jadi kalau akhir-akhir ini merasa:

•            mudah buyar,

•            sering ngelamun,

•            banyak mikir sedikit action,

•            capek sendiri,

•            atau merasa kemampuanmu tidak keluar maksimal…

mungkin problemnya bukan kurang pintar. Mungkin kamu hanya terlalu lama hidup di dalam pikiranmu sendiri.

 

#Isnurin bonowiyati

#Productivity Specialist

#Ardhana EO training dan Outing


Bagikan postingan ini
Hubungi Kami Via Whatsapp