Inilah urutan Emosi yang paling sering menghalangi mata hati
(edisi lanjutan artikel sebelumnya)
Halo sahabat ardhana
kalau mau mulai mengenali emosi…
tidak perlu banyak-banyak dulu.
Cukup empat saja yang paling sering menghalangi penglihatan hati kita, hingga tindakan kita cenderung merusak diri dan orang lain, baik itu lewat kata kata pedas, chat yang seadanya, sikap yang arogan bahkan sikap menunda nunda sebuah aktifitas penting..
Lah koq bisa???
Apa saja urutannya ..
Marah.
Sedih.
Rindu.
Kuatir.
Empat ini seperti “pintu masuk” untuk memahami diri.
Coba pelan-pelan kita lihat…
Karena di baliknya, ada bias pikiran yang bermain:
Merasa tidak adil.
Merasa tidak berharga.
Merasa ditinggalkan.
Merasa masa depan suram.
Marah itu muncul dari mana?
Dari pikiran: “Ada yang tidak adil.”, bisa berubah bentuk menjadi sikap iri dan curiga
Sedih itu muncul dari mana?
Dari pikiran: “Aku tidak berdaya.”, bisa berubah bentuk jadi sikap apatis, menyalahkan (playing victim) dan banyak lagi sikap merugikan lainnya
Rindu itu muncul dari mana?
Dari pikiran: “Aku kehilangan sesuatu yang pernah ada.”, bisa berubah menjadi sikap melamun, sikap curiga dan lain lain
Kuatir itu muncul dari mana?
Dari pikiran: “Masa depan terasa tidak aman.”, bisa berubah menjadi sikap kikir , tergantung orang lain , sikap defensive dan lain lain
Empat rasa ini tidak berdiri sendiri ya
Mereka selalu hadir dalam banyak “konten” kehidupan:
• Dalam waktu (detik, hari, bahkan bertahun-tahun)
• Dalam peran (sebagai ibu, pekerja, manusia)
• Dalam lingkungan (kecil maupun besar)
• Dalam relasi dengan orang lain
• Dalam skill, aset, dan power yang kita miliki
Jadi wajar… kalau rasanya kompleks.
Yang sering terjadi, kita malah sibuk menilai:
“Ini emosi baik atau buruk ya?”
“Harus dihilangkan atau tidak?”
Padahal bukan itu dulu.
Yang penting adalah:
kenali… terima… pahami.
Empat rasa ini cukup diperlakukan sebagai:
signal alami.
Bukan musuh.
Bukan juga sesuatu yang harus diikuti.
alih alih menjadi buta hati kita, Di titik ini, kita punya pilihan.
Bukan menghilangkan emosinya…biarkan ia ada disana. Namun latihlan untuk tapi memilih responnya.
• Saat marah → pilih tetap tenang atau tegas
• Saat sedih → izinkan, tapi secukupnya
• Saat rindu → alihkan ke aktivitas yang sehat
• Saat kuatir → lakukan sesuatu, sekecil apa pun
Di sinilah kita belajar menjernihkan hati adalah point utamanya.
Tidak hanyut.
Tidak tenggelam.
Tapi… naik perahu di atas emosi itu.
Karena hidup memang akan terus diwarnai:
Adil atau tidak adil
Berharga atau merasa kurang
Rindu atau penuh
Kuatir atau optimis
Semua itu bukan untuk dihindari,
tapi untuk dilewati dengan sadar.
Seperti air di sungai…
mengalir saja.
Ahaa… jadi ternyata,
tidak perlu repot-repot “menghilangkan” marah, sedih, rindu, dan kuatir.
Cukup:
terima… pahami… lalu kelola.
Karena saat kita menerima emosi,
seperti kita menerima diri sendiri…
maka emosi tidak lagi merusak.
Tapi justru menjadi sumber daya.
Jadi kalau ingin sehat…
kelola emosi dulu.
Kalau ingin pulih…
kelola emosi dulu.
Kalau ingin hidup lebih “kaya”…
yang didisiplinkan pertama adalah mental.
Dan kalau di tengah jalan bingung…
Tenang, ada Allah.
Kalau rindu… ada Allah.
#isnurin bonowiyati
#emosi dan productifity
#Ardhana Outbound Capacity Building
#Ardhana EO