Jalan Perumnas No.7 Condongcatur Depok, Sleman, Yogyakarta

081 226 888 844

Kapan kita bisa BAHAGIA?


Kapan kita bisa bahagia ?

SELAMA terbebas DARI Tekanan yang kita ciptakan sendiri 
SELAMA PUNYA PILIHAN DAN MERDEKA MELAKUKANNYA 
DI SANA BAHAGIA BERSEMAYAM.


“Katanya kebahagiaan datang kalau kita bisa santai…”

“Iya, tapi kok pas santai malah kepikiran yang lain?”

Dialog kecil itu sering terjadi—di kepala kita sendiri. Saat akhirnya punya waktu rehat, justru muncul rasa gelisah. Saat sudah mencapai sesuatu, malah muncul target baru. Jadi, apakah santai itu sama dengan bahagia? Ternyata tidak selalu.

Banyak orang mengira kebahagiaan tinggal menunggu di ujung pencapaian. Uang cukup. Status naik. Anak sukses. Badan sehat. Liburan ke pantai. Tapi anehnya, setelah semua diraih, tetap saja ada hari ketika hati terasa kosong. Ada saja momen ketika kita tersinggung, lelah, atau marah hanya karena satu komentar kecil.

Lalu apa sebenarnya bahagia itu?

Apakah uang? Bisa jadi, karena uang memberi rasa aman.
Apakah hobi? Bisa jadi, karena hobi membuat jiwa hidup.
Apakah relationship? Bisa jadi, karena kita butuh dicintai dan mencintai.
Apakah piknik santai? Bisa jadi, karena tubuh dan pikiran butuh jeda.

Namun satu hal yang pasti: semua itu bukan jaminan permanen. Bahagia bukan keadaan yang beku. Ia cair. Ia bergerak. Ia bisa datang dan pergi.

Saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Kalau begitu, di mana letak bahagia yang nyata?”

Jawabannya sederhana, tapi dalam: bahagia adalah kemerdekaan untuk memilih.

Memilih bangun pagi dan bekerja.
Memilih makanan yang ingin kita makan.
Memilih pergi berobat ketika tubuh butuh pertolongan.
Memilih mengambil raket untuk olahraga.
Memilih sepatu untuk melangkah.

Alih-alih terpenjara, terkekang, atau hidup dalam ancaman—kita masih punya pilihan. Dan di sanalah kebahagiaan berakar.

Bayangkan dua orang dengan situasi berbeda. Yang satu mengeluh karena harus bekerja. Yang lain tersenyum karena masih diberi kesempatan bekerja. Situasinya sama, tapi cara memaknainya berbeda.

Kebahagiaan bukan tentang hidup tanpa tekanan. Kebahagiaan adalah kondisi mental yang cukup tenang untuk memilih respons saat tekanan datang.

Seorang teman pernah berkata,
“Kenapa sih orang itu menekan aku terus?”
Saya bertanya balik, “Apa kamu masih punya pilihan untuk tetap menjadi dirimu?”
Dia terdiam.
“Iya… masih.”

Nah, di situ ada ruang bahagia.

Ukuran kesehatan mental bukanlah seberapa jarang masalah datang, tetapi seberapa tenang kita saat menentukan pilihan, dan seberapa adaptif kita menghadapi perubahan. Bukan tentang siapa yang salah, atau seberapa keras kepala kita mempertahankan ego.

Seorang filsuf Yunani, Aristotle, pernah mengatakan bahwa kebahagiaan bukan sekadar perasaan sesaat, melainkan aktivitas jiwa yang selaras dengan nilai kebaikan. Artinya, bahagia itu dijalani, bukan ditunggu.

Hari ini mungkin kita lelah. Besok mungkin ada kabar mengejutkan. Lusa mungkin ada perubahan rencana. Tapi selama kita masih bisa berkata, “Saya memilih untuk tetap berjalan,” maka kita belum kehilangan bahagia.

Bahagia bukan berarti tidak pernah marah.
Bahagia bukan berarti tidak pernah kecewa.
Bahagia adalah kesadaran bahwa kita masih merdeka untuk memulai lagi.

Jadi, yuk bahagia. Bukan karena semuanya sempurna.
Tapi karena kita dilahirkan dengan satu anugerah besar: kebebasan untuk memilih sikap.

Dan selama itu masih ada, kebahagiaan selalu punya pintu untuk masuk.


#isnurin Bonowiyati
#ardhana training dan outing 
#Productifity Specialist


Bagikan postingan ini
Hubungi Kami Via Whatsapp