Jalan Perumnas No.7 Condongcatur Depok, Sleman, Yogyakarta

081 226 888 844

“Kenapa Aku Nggak Performa?” — Sebuah Dialog di Bulan Ramadhan


“Kenapa Aku Nggak Performa?” — Sebuah Dialog di Bulan Ramadhan

seberapa kuat Niat , Fokus dan Konsistensimu menghujam bumi produktifitas

 

“Aku merasa nggak optimal. Kayaknya kontribusiku kecil banget.”“Serius nanyak ...kamu lagi capek?”

“Entahlah. Rasanya sudah kerja, sudah gerak, tapi kok nggak maksimal ya?”

Percakapan itu mungkin bukan dengan orang lain. Tapi dengan diri sendiri. Apalagi di bulan Ramadhan. Saat ritme berubah, energi naik turun, dan hati jadi lebih sensitif. Kita mulai membandingkan. Orang lain terlihat aktif, produktif, berdampak. Sementara kita? Merasa biasa saja.

Lalu suara kecil itu bertanya lagi, pelan tapi tajam.

“Sebentar… kamu melakukan semua ini sebenarnya untuk siapa?”

Diam.

Itu pertanyaan pertama: niat dan arah.

Kadang kita merasa tidak perform karena sebenarnya arah kita kabur. Kita ingin bermanfaat, tapi juga ingin dipuji. Kita ingin berdampak, tapi juga takut tidak dilihat. Energi habis bukan karena kerja terlalu banyak, tapi karena niat bercabang.

Ramadhan mengajarkan ulang tentang orientasi. Dalam Al-Qur'an ada ajakan untuk melihat apa yang kita siapkan untuk esok hari. Artinya kita diminta evaluasi arah, bukan sekadar hasil. Kalau niat lurus, kontribusi kecil pun terasa bermakna. Kalau niat goyah, kontribusi besar pun terasa hampa.

Suara itu lanjut bertanya.

“ Atau jangan-jangan kamu bukan kurang kontribusi… tapi kurang energi?”

“Hmm…”

Pertanyaan kedua: energi dan kapasitas.

Merasa tidak optimal bisa jadi bukan karena malas, tapi karena lelah. Kurang tidur. Banyak beban pikiran. Ibadah ingin maksimal, kerja ingin maksimal, peran keluarga juga ingin maksimal. Semua ingin sempurna. Akhirnya tubuh drop, emosi tipis, fokus pecah.

Islam tidak pernah memerintahkan produktif sampai hancur. Mukmin yang kuat lebih dicintai daripada yang lemah. Kuat akal, kuat badan, kuat hati. Kalau energi kosong, bagaimana mau menebar manfaat?

Kadang yang perlu diperbaiki bukan target, tapi ritme.

Suara itu belum selesai.

_“Baiklah. Tapi kamu benar-benar menyelesaikan apa yang sudah kamu mulai?”_Aduh.Pertanyaan ketiga: konsistensi dan ketuntasan.

Kita sering memulai dengan semangat. Program baru. Ide baru. Resolusi baru. Tapi belum selesai sudah pindah ke yang lain. Belum tuntas sudah bosan. Lalu merasa tidak perform.

Padahal dalam Surah Al-Insyirah ada pesan kuat: jika selesai satu urusan, bersungguh-sungguhlah pada urusan berikutnya. Selesai dulu. Tuntaskan dulu. Baru lanjut.

 

Produktivitas dalam Islam bukan tentang cepat dan banyak. Tapi tentang tuntas dan berlanjut.

Lalu dialog itu sampai pada satu kisah yang menenangkan.

Tahukah kita? Saat Nabi Muhammad menerima wahyu pertama, beliau tidak langsung berdiri dan berdakwah ke seluruh kota. Beliau gemetar. Beliau pulang. Menenangkan diri. Memahami. Menguatkan hati. Proses itu tidak instan.

Dakwah besar dimulai setelah beliau paham. Setelah hati tenang. Setelah dirinya siap.

Artinya apa?

Kebermanfaatan publik selalu dimulai dari penyelesaian internal.

Mulai dan selesai dengan diri sendiri dulu. Luruskan niat. Kuatkan energi. Tuntaskan amanah kecil. Baru kemudian melangkah lebih luas.

Jadi kalau hari ini merasa tidak perform, mungkin Allah sedang menyuruh kita berhenti sejenak dan bertanya:

“Akar kamu sudah kuat belum?”

Karena pohon yang akarnya matang, buahnya akan datang pada waktunya.

Dan Ramadhan adalah waktu terbaik untuk menguatkan akar itu. 3 akar yang menghujam tanah,  Kuatkan   NIAT, FOKUS dan KONSISTENSImu . 

 

#isnurin bonowiyati

#productifity Specialist

#Ardhana Training n Outing


Bagikan postingan ini
Hubungi Kami Via Whatsapp