Hidup = episode mengejar rasa ❌,
Hidup = ujian menemukan makna ✅
Pantang Mundur Tetaplah Cool kawanku
Entah kenapa, makin ke sini saya merasa…saya atau bisa jadi anda dan manusia lainnya sering salah paham tentang hidup.
Sempat aku mengira bahwa hidup yang baik itu hidup yang banyak rasa bahagianya.
Maka tanpa sadar kita sibuk mengejar rasa:
ingin dipuji, ingin dimengerti, ingin nyaman, ingin dianggap penting, ingin selalu tenang tanpa masalah.
Padahal hidup tidak pernah berjalan seperti itu.
Ada hari dimana hati ringan. Ada hari dimana pikiran sumpek.
Ada hari dimana kritik terasa menusuk.Ada hari dimana tubuh lelah dan dunia terasa gaduh sekali.
Lalu yang sering terjadi, kita ikut hanyut di dalam rasa yang kita inginkan tadi…kan jadinya kocak ya…
Sedikit tidak enak hati langsung overthinking.
Sedikit kecewa diputar ulang berkali-kali.
Sedikit tidak dianggap mood rusak seharian.
Capek sedikit lari ke HP tanpa arah.
Dikritik sedikit merasa diserang harga dirinya.
Lama-lama saya sadar… ternyata yang melelahkan bukan hanya masalah hidupnya.
Tetapi karena syaraf dan pikiran kita terus dilatih untuk hidup reaktif terhadap rasa.
Dan yang sering tidak disadari, sesuatu yang diulang terus menerus akan menjadi pola.
Kalau tiap hari kita melatih cemas, maka cemas jadi otomatis.
Kalau tiap hari kita melatih marah, maka emosi jadi pendek.
Kalau tiap hari kita melatih pelarian, maka fokus jadi rapuh.
Akhirnya ruang damai di dalam diri seperti jauh sekali aksesnya. Padahal sebenarnya ruang tenang itu tidak hilang. Hanya jarang dikunjungi.
Lalu saya mulai memahami sesuatu yang sederhana namun dalam:
mungkin tujuan hidup bukan sekadar mencari bahagia.
Tetapi menemukan alasan kenapa kita diciptakan. Karena saat manusia mulai menemukan makna hidupnya, ada sesuatu yang berubah dalam cara ia menjalani hari.
Bekerja bukan cuma menggugurkan kewajiban. Menjadi ibu bukan sekadar rutinitas.
Menjadi pemimpin bukan sekadar jabatan. Menjaga lingkungan bukan sekadar aturan.
Semua mulai terasa punya makna.Dan anehnya… saat hidup punya makna, hati justru lebih tenang. Dan dari rasa tenang itu hidup tetap tak mudah namun kita tidak lagi tenggelam dalam gelombang rasa yang naik turun seperti badai dan bahkan tsunami.
Jika mau jeda sebantar menemukan sisi manusia lain yang asli dari lahir sudah ada yaitu ketenangan dan mulai meredupkan cahaya emosi yang menyilaukan seperti marah, sedih dan kuatir…. Lewati saja rasa itu …
Saat ini aku pelan pelan mulai membiasakan diri memilah milah emosi dan hasilnya berupa berkata pada diri sendiri:
“Sebentar… tujuan hidupku bukan hanya ingin dipuji.”
“Sebentar… kritik bukan akhir dari harga diriku.”
“Sebentar… rasa malas ini tidak boleh memimpin hidupku.”
“Sebentar… aku punya peran yang harus dijalani.”
Di titik itu, kesadaranku dan ketenangan mulai bekerja.
Kesadaran bahwa disiplin bukan sekadar aturan, tetapi bentuk tanggung jawab pada hidup.
Kesadaran bahwa energi jangan dihabiskan untuk drama pikiran yang berulang-ulang.
Kesadaran bahwa terbuka terhadap masukan bukan berarti rendah diri.
Kesadaran bahwa inovasi lahir dari kepedulian.
Kesadaran bahwa menjaga lingkungan berarti sadar kita hidup tidak sendirian.
Lalu perlahan kita mulai memahami, konsistensi ternyata bukan perkara keras pada diri sendiri semata. Tetapi tentang seberapa sadar kita menjalani hidup.
Karena orang yang hidupnya hanya mengikuti mood akan mudah berhenti.
Sedangkan orang yang hidupnya punya makna akan tetap berjalan walau pelan. Konsisten itu hidup untuk berarti.
Mungkin tidak selalu semangat. Mungkin masih sering lelah.Mungkin kadang masih goyah juga. Tetapi ia tahu kenapa ia harus kembali bangun.
Dan menurut saya, itu adalah bentuk ketenangan yang lebih dewasa.
Bukan tenang karena dunia selalu baik-baik saja.
Tetapi tenang karena di tengah tekanan hidup, dirinya masih bisa kembali sadar.
Masih bisa kembali bernapas.
Masih bisa kembali memilih respon yang lebih baik.
Masih bisa kembali mengingat:
“Aku tidak harus tenggelam dalam semua rasa ini.”
Bukankah selama ini kita terlalu sering hidup di bawah gelombang emosi?
Padahal manusia sebenarnya diberi kemampuan untuk berdiri di atasnya.
Mengamati rasa tanpa harus hanyut sepenuhnya.
Dan mungkin perjalanan hidup bukan tentang menghilangkan semua kegelisahan.
Tetapi tentang melatih hati agar tidak kehilangan arah di tengah kegaduhan.
Pelan-pelan saja.
Karena jiwa juga seperti tubuh.
Ia perlu dilatih.
Perlu diistirahatkan.
Perlu diarahkan kembali pada makna.
Dan barangkali… ketenangan sejati memang bukan hadiah untuk hidup yang tanpa masalah.
Tetapi hadiah bagi hati yang terus belajar sadar dan konsisten tentu saja. Pantang mundur persisnya.
#isnurin bonowiyati
#Productivity Specialist
#Leadership Specialist
#Ardhana EO Training dan Outing
#Ardhana Outbound Jogja