Jalan Perumnas No.7 Condongcatur Depok, Sleman, Yogyakarta

081 226 888 844

SERVICE YANG TERTUNDA ATAU EMANG MALAS MELAYANI?


SERVICE YANG TERTUNDA ATAU EMANG MALAS MELAYANI

 

“Kamu tim malas… atau tim menunda?”

 

Pertanyaan ini sederhana, tapi kalau dijawab jujur, bisa terasa menampar. Karena di balik setiap layanan yang tidak berjalan optimal, seringkali bukan soal sistem, bukan soal atasan, tapi soal apa yang sedang terjadi di dalam diri kita.

 

Bayangkan sebuah situasi.

 

Seorang pasien sudah duduk menunggu. Nomor antrian sudah terpanggil. Tapi petugas di balik meja masih menunduk, menggulir layar ponselnya. Dari luar, mudah sekali memberi label: malas.

 

Atasan datang, nada suara meninggi, “Kenapa sih kamu ini malas banget melayani?”

 

Lalu dimulailah drama klasik di organisasi. Pembelaan muncul. “Bukan saya saja kok… sistemnya juga lambat.” Atau, “Tadi saya lagi capek.” Bahkan kadang dilempar ke orang lain, “Yang bagian sebelumnya juga telat.”

 

Padahal, kalau mau jujur, akar masalahnya belum tentu malas.

 

Bisa jadi… menunda.

 

Malas itu jelas. Tidak ada niat. Tidak ada dorongan dari dalam. Orang yang malas biasanya tidak merasa bersalah. Karena memang dari awal, tidak ada komitmen yang ingin dijalankan. Ia tidak bergerak, dan cukup nyaman dengan itu.

 

Tapi menunda, ceritanya berbeda.

 

Di dalam diri orang yang menunda, ada niat. Ada keinginan untuk melayani. Bahkan ada kesadaran bahwa apa yang ia lakukan itu penting. Tapi niat itu kalah oleh arus lain yang lebih dominan: takut salah, minder, merasa tidak cukup mampu, atau sekadar emosi negatif yang tidak dikelola.

 

Akhirnya, yang terjadi bukan tidak tahu harus apa… tapi tidak jadi melakukan apa-apa.

 

Dan di sinilah masalah mulai berdampak.

 

Kasus akibat malas melayani biasanya terlihat jelas. Misalnya, petugas yang tidak peduli dengan antrian, sehingga waktu tunggu jadi panjang. Pelanggan yang seharusnya selesai dalam 10 menit, menjadi 30 menit. Ada juga yang menjawab seadanya, tanpa empati, tanpa usaha memahami kebutuhan. Dampaknya? Klien merasa tidak dihargai, kepercayaan menurun, bahkan bisa berpindah ke layanan lain.

 

Malas itu seperti “mematikan mesin” pelayanan.

 

Sementara itu, kasus akibat menunda justru lebih halus tapi berbahaya. Misalnya, petugas yang sebenarnya tahu pasien butuh bantuan segera, tapi menunggu “nanti saja”. Atau seorang staf yang harusnya follow up klien hari ini, tapi menunda karena merasa belum siap bicara. Atau melihat masalah kecil di depan mata, tapi memilih diam karena takut salah langkah.

 

Penundaan ini sering dibungkus dengan alasan yang terlihat masuk akal.

 

“Tunggu momen yang tepat.”

“Biar nanti saja sekalian.”

“Saya belum yakin.”

 

Padahal di balik itu, ada masyarakat yang menunggu kontribusi kita.

 

Dan yang paling berat dari menunda adalah efek batinnya. Setelah menunda, muncul rasa bersalah. Lalu untuk menutupi rasa itu, kita mencari distraksi. Scroll media sosial jadi pelarian paling mudah. Sejenak terasa ringan… tapi setelah itu, beban justru bertambah.

 

Berbeda dengan malas yang “tenang”, menunda justru melelahkan.

 

Dua-duanya sama-sama merugikan. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk klien, pasien, atau siapa pun yang bergantung pada layanan kita. Mereka tidak peduli kita sedang malas atau menunda. Yang mereka rasakan hanya satu: pelayanan yang tidak hadir.

 

Di titik ini, kesadaran menjadi penting.

 

Karena solusi dari keduanya berbeda.

 

Kalau memang kita sedang malas, maka pekerjaan utamanya adalah memperbaiki niat. Tidak perlu sok kuat. Tidak perlu pura-pura semangat. Justru berhenti sejenak, revisi niat, dan temukan kembali alasan kenapa kita ada di peran ini. Niat yang jelas akan memunculkan energi yang baru.

 

Tapi kalau yang terjadi adalah menunda, maka ini bukan lagi soal niat. Ini soal tanggung jawab terhadap diri sendiri. Kita sudah tahu yang benar, tapi tidak melakukannya. Maka solusinya bukan menunggu mood, tapi menciptakan aksi.

 

Mulai dari yang kecil.

 

Berhenti scrolling.

Fokus satu tugas.

Layani satu orang di depan mata.

 

Tidak perlu sempurna. Yang penting bergerak.

 

Karena seringkali, setelah satu langkah kecil diambil, langkah berikutnya menjadi lebih ringan. Dan perlahan, kita kembali menemukan ritme pelayanan yang hidup.

 

Di sinilah kita belajar, melayani bukan tentang menjadi robot seperti yang sering ditakutkan. Tapi tentang menjadi manusia yang hadir utuh. Sadar, peduli, dan bertanggung jawab atas perannya.

 

Jadi sekarang, kembali ke pertanyaan awal:

 

Kamu tim malas… atau tim menunda?

 

Nah, kalau sudah tahu… segera action.

 

Bagi yang malas, perbaiki niatmu.

Bagi yang menunda, kalahkan emosimu dengan tindakan.

 

Karena di luar sana, ada orang-orang yang sedang menunggu kontribusimu.

 

#ardhana EO outbound

#Excellence Service Training

#isnurin Bonowiyati

#Productivity Specialist


Bagikan postingan ini
Hubungi Kami Via Whatsapp